Selamat Datang

SELAMAT DATANG :: SUGENG RAWUH :: ترحيب :: WELCOME :: BIENVENUE :: 的欢迎 :: WELKOM :: BEM-VINDO :: BIENVENIDOS :: καλωσόρισμα
Tampilkan postingan dengan label sajak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sajak. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 Januari 2013

Hymne Patriotisme Tikus

(Ngadidjo Stinger)

Padamu negeri, kami korupsi
Padamu negeri, kami mencuri
Padamu negeri, kami berkongsi
Oh negeri, kami belum puas diri

Padamu negeri, biar kami mengerat
Padamu negeri, peduli setan dengan rakyat
Padamu negeri, kami senang dilaknat
Oh negeri, kami tak percaya akhirat

Padamu negeri, kami tak suka dihukum
Padamu negeri, sebab hukum sudah kami hukum
Padamu negeri, jadilah hukum buah yang alum
Oh negeri, kasihan deh antum

Padamu negeri, kami cinta padamu
Padamu negeri, kami cinta kekayaanmu
Padamu negeri, biarkan kami menjarahnya
Oh negeri, kami belum berpuas diri juga


Kabut Sunyi, 29 Januari 2012

Jumat, 11 Januari 2013

Mimpi

(Ngadidjo Stinger)

Kami bertanya-tanya
Tapi kami bukan mengeluh
Kami bermimpi
Sungguh itu bukan khayalan
Kami memimpikan
Ternyata itulah pengharapan

Mimpi selalu tak mengalah
Ia membersitkan tanya tak terjawab
Ketika telah datang masanya
Kami mengerti ketika mereka tak pernah memahami
Tentang sebuah mimpi, yang menginjak naluri kami

Mimpi adalah, melaju kencang dengan cahaya,
menembus dimensi ruang dan waktu
Mimpi adalah dinding beton berdiri sombong,
dan kau runtuhkan dengan telunjukmu
Dengan jiwa putih hampir tak bernoda,
yang menaungi tubuh sucimu

Mimpi kami tak menggenggam suratan
Ia berdendang dalam getaran irama sumbang, terkadang
Mimpi ini jalinan erat dalam lingkaran mengikat
Ia tiada retas, tiada pula terlepas

Mimpi ini bergulir kencang,
Ia adalah bebatuan yang runtuh menggelinding dengan satu tujuan
Ia adalah udara, hinggap dan menerpa air yang mengalir,
hingga kian deras,
menantang bebatuan kali yang sungguh cadas

Ia juga api,
Menyala penuh amarah,
segera, tak akan kesejukkan menerjang lagi,
kerna ia menjilati tubuh rentamu penuh gairah
Ketika mimpi itu masih berkobar tanpa jengah,
jangan sekali-kali kau menikamnya,
Jangan pernah!!!


Kabut Sunyi, 11 Januari 2013

Rabu, 09 Januari 2013

Sedikit Lagi Sayang, Lalu Bersama Mentari Senja, Bergegas Aku Pulang

(NgadidjoStinger)

Sedikit lagi sayang, lalu
 bersama mentari senja, bergegas aku pulang.
Tidaklah sukar bagimu dan tak semudah bagiku.
Apakah ini telah memendam gelisahmu?
Tidak, sesungguhnya tidak. Aku tahu bagaimana tegar jiwamu.
Sungguh kumengerti hujan badai tak pernah menangguhkanmu.

Batu karang adalah semangatmu.

Yang menjulang perkasa menafikan seribu duka melanda.
Angin laut adalah jiwamu.
Yang berhembus tenang melintasi pusaran ganas ombak lautan kehidupan. 
Senandung cinta pada Kekuatan Maha Dahsyat,
mengalun syahdu membias dalam tingkah laku, dalam setiap gerak menawan,
pada setiap tutur kata, pada tiap kesantunan yang berkesan.
Keindahan nurani yang menyejukkan.
Kehangatan naluri dalam setiap pelukanmu pada kuasa alam.

Kali ini, kau telah melihat tabirnya, kulihat dari cahaya matamu,

dengan kilaunya nyata-nyata mengelabuiku. 
Dan kini tabirmulah, yang tak terkuak.
menghanyutkan jiwa hingga muara kelam.

Aku hanyalah sampah.
Seonggok raga hina yang tak lebih besar dari sebutir debu.
Seorang pelantun kesuraman saja. 
Yang niscaya kian menyusahkanmu.

Tetapi, tataplah jauh disana, duhai mutiara.

di padang luas yang kersang.
Mereka kawanan binatang, tak lelah menanti hujan,
Setelah kemarau panjang menerkam.
Mendamba guyuran kesegaran.
Yang segera memberi air kehidupan.
Menumbuhkan tetanaman, sebentuk wujud harmonisasi alam.
Demi air, api, tanah dan udara,
mereka merindu semua sebagai jawaban,
atas doa-doa,
Kepada Sang Maha Pengatur Keseimbangan.

Begitupun raga lemah kami,

Sekedar mendamba peluk balas lirihmu, 
yang menggelayut dalam benak, senantiasa.
Setelah aku memohon petunjukNya.
meminta belas kasihanNya.
Dan demi air, api, tanah dan udara,
apapun yang hendak kau bisikkan.
Karena aku tahu,
dan aku ingin, mendengar itu pasti,
meluncur mulus dari bibirmu.
Setelah itu, 
bersama mentari senja, 
bergegaslah aku pulang.


Kabut Sunyi, 7 Januari 2013

Senin, 24 September 2012

Elegi Siang Sunyi

(Ngadidjo Stinger)

Aku tanam bunga ini dalam doa bersayap
Aku sirami setiap hari dengan tiap tetesan peluh rindu
Aku tak peduli di negeri ini tak bisa tumbuh bunga secantik engkau
Aku tak mau melihatnya layu
Aku sirami setiap hari karena aku tahu mekarmu pasti

Tumbuh dan berkembanglah pada terpaan angin kering
Biar terlihat mekarnya dikau tanpa sedikitpun ragu
Bukan meratap ketika hanya engkau yang harus kupetik kelak
Karena pernah kutatap dikau rekahkan warna merah padaku
Ketika taman hatiku telah ditumbuhi aneka warna pesona
Mereka yang pernah singgah namun tak pernah mau mati?

Lihatlah, engkau tumbuh semakin cantik
Tak ada seperti mereka yang telah berlalu dan layu
Tapi, aku tak harus berhenti menyiramimu

Bersabarlah,
Bersabarlah wahai gelombang kerinduan

Dan sungguh sedikitpun mata ini tak lelah memandang dikau
Untuk sekedar mendamba engkau sejenak berpaling disini
Lalu menarikku dari samudera terdalam
Dengan perahu sunyi yang kian tenggelam
Bersama sekuntum tulip yang kini mekar putih dan mewangi.


Cilacap, 19 September 2012

Senin, 12 Desember 2011

Putri Biru

Putri Biru
(Stinger)

Sekejap lelah hilang mendengar suaramu.
Seketika hati terjaga dibuai tawamu.
Penat tak lagi rasa,
menikmati butiran kata yang terurai dari getaran bibirmu.
Sungguh, menuai hasrat menggelora untuk jumpa.

Gambargambar itu, membawa diri pada satu nuansa,
nestapa dan suka.
Sepertinya mentari telah membiaskan cahaya padamu bersama gugusan langit biru.
Entahlah, mungkin hamba seorang pembual yang sedang menatap rindu.
Rindu menyongsong malam beraroma surga.

Kau, rembulan senja berhias bintang kejora yang bangkitkan jiwa.

Ampuni hamba, duhai cindur mata.
Hamba hanyalah anak Adam yang ingin melihat warnamu.
Menyelami dasar sanubarimu.
Kiranya hati tertaut,
pastilah hamba mengetuk.
Sekedar melangkah masuk, dan tawarkan bahagia.

Kau, rembulan senja berhias bintang kejora yang bangkitkan jiwa.
Meski belum bisa hamba meretas hatimu.

Kapuk, Jakut, 13/10/2011

Sajak Sang Pendobrak

(NgadidjoStinger)

Gesit bernyali didera badai empat penjuru

Di hamparan belangkin meleleh tapak kaki
Sosok pertapa negeri liliput
Kerontang telak pekik dalam terik
Tentang kebusukan
Tentang ketamakan
Tentang kongkalingkong
Raja kingkong gemar bual
Bualan odong-odong
Ada emas celoteh telek
Rumput kering membual hijau
Akar rumput tak berdenyut.

Ia tetap teriak dalam sunyi
Bajingan-bajingan menuli
Tikus gendut manggut-manggut
Licik bersiasat picik pada hitam benak
Sudah kepalang basah kuyup
Sikat saja yang belum disikat
Cingur pun sama tajam
Sudah barang tentu sebab satu kelas.

Oh, kapan meranggas ranting pelangi?
Kapan tenggelam gurita muka badak?
Ketika perawanperawan terenggut
Ketika orokorok menyusu air got
Lalu kemana lari ksatria putih?
Seharusnya ia lekas pulang
Menebas awan hitam pada cakrawala remang
Sedang badut-badut mengepet kalem
Tanpa tedeng aling-aling.

Langit memudar sang pertapa pulang

Esok ia akan kembali
Sampai saatnya nanti
Dihunusnya pedang
Dibabatnya semua yang menuli
Mungkin dia ksatria putih.


Kapuk, 17 November 2011

Rabu, 07 Desember 2011

Bisuku dalam Tulimu

(Ngadidjo Stinger)

Dalam cercaan sang ksatria malam,
masih aku membisu.
Mulutku terus dihujani paku.
Tiada henti.

Bahkan tadi siang, 
matahari meludahi mulutku dengan hangat sinarnya.
Aku tetap bisu membatu.
Tak bergeming.

Aku hanya tahu, 
bukan mulutku yang akan bicara kepadamu. 
Kepada alam.
Atau kepada kesombongan dunia.

Kamu.
Dan kamu tetap tuli dalam riuh ombak lautan.
Kenapa? 
Haruskah gemuruh gunung,
biar kupingmu benderang?
Belumkah kilat menyambar dengkimu pada garismu?
Atau, sudah lelahkah jemarimu,
biar menulis, melentik, 
atau bahkan menggengam langit?

Ya sudah, biarlah kutelan tulimu,
dan mulutku masih tetap membisu.

Cilacap - Jakarta, 7 November 2011

Rabu, 07 September 2011

Mea Culpa

(NgadidjoStinger)

Untitled
akingakingaking
banjirbanjirbanjir
borokborokborok
bobrokbobrokbobrok
cemarcemarcemar
copetcopetcopet
dogmadogmadogma
epidemiepidemiepidemi
fulusfulusfulus
gusurgusurgusur
haramharamharam
kasuskasuskasus
kibulkibulkibul
koinkoinkoin
konyolkonyolkonyol
lipsinglipsinglipsing
malingmalingmaling
melayumelayumelayu
mabokmabokmabok
mundurmundurmundur
nganggurnganggurnganggur
pisahpisahpisah
pusopusopuso
rusuhrusuhrusuh
sablengsablengsableng
tikustikustikus
u...
wis tho,
sirahe Simbok ngelu.

Ampun
Ampun Gusti...
Hamba banyak melakukan kesalahan di dunia ini.
Hingga hamba Engkau beri banyak peringatan lewat alam karyaMu.
Hamba terlalu lupa padaMu.
Hamba hampirhampir tidak pernah menghadap kepadaMu.
Hamba sering tidak menghargai alam, buang sampah sembarangan, merusak tanaman, menebangi pohon namun lupa menanaminya lagi, mengeruk pasir berlebihan, membuang limbah ke sungai dan laut.
Hamba sering menyakiti perasaan orang lain, mencemooh, atau memfitnah orang lain.
Hamba juga sering menggunjing orang lain bahkan teman atau saudara hamba sendiri, tapi hamba tidak berkaca.
Hamba sering bertingkah sok jagoan, mau menang sendiri, seakan lupa bahwa hamba bukan apaapa di hadapMu.
Hamba hampir selalu ingkar janji kepada orang-orang.
Bahkan hamba dengan tanpa dosa memakan uang yang bukan hak hamba.
Kadang hamba juga sering membantu orang lain yang jelasjelas salah.
Ampun Gusti, hamba juga sering melakukan mo-limo.
Hamba pun hampir selalu lupa bersedekah seolah lupa jikalau harta yang hamba miliki bukanlah milik hamba seutuhnya.
Hamba juga jarang menolong orang lain yang sedang bersusah hati.
Hamba sering tidak ikhlas dalam menolong.
Hamba yang kecil ini terlalu sombong, angkuh, tidak toleran dan rasis.
Hamba tidak pernah sabar dengan apa yang dihadapi serta kurang pandai bersyukur dengan apa yang Engkau berikan.
Sering hamba tidak jujur dalam berdagang maupun dalam bertutur.
Kadang hamba juga tidak patuh kepada orangtua, seperti lupa kalau mereka yang mengasuh hamba sejak kecil.
Hamba ini tidak punya rasa malu.
Ampuuuuuun Gustiiiiii,,,tobat...
Tapi kalau hamba sahaja yang bertobat, apakah negeri hamba bisa terlepas dari kemurkaanMu?

Mea Culpa
Lapindo berlumpuran derita dan tangis.
"Mea culpa, saya akan membayar ganti rugi dan bersedia mundur dari jabatan saya."
pesawat, kapal laut, heli, bertumbangan.
"Mea culpa, saya mundur."
Si A diduga korupsi kolusi.
"OK, mea culpa, ampuni saya, saya mundur".
"Mea Culpa, doooor, saya bunuh diri."
Kasus Munir, Wiji dkk.
"Mea culpa, saya yang menginstruksikan, saya siap ditindak sesuai dengan hukum yang berlaku."
Si C bebas, "mea culpa, saya sebagai hakim telah disogok, saya mundur dan siap dihakimi."
Situ Gintung jebol.
"Mea Culpa, saya segera mundur."
Seni ini produk itu diklaim negara lain.
"mea culpa, saya yang bertanggung jawab, saya mundur."
Sumatra dan Sulawesi dan disana juga banjir.
"Mea culpa, saya mundur."
TKI diperkosa, disiksa, dirazia, tidak dibayar.
"Mea Culpa, saya akan mundur."
Kalian dinyatakan tidak profesional.
"Mea culpa, baiklah kami mundur."

Ini itu disana disitu......
mea culpa....

ohh mea culpa, ampuni saya, saya cuma bermimpi...

Selasa, 06 September 2011

Blues

Blues 

(Ngadidjo Stinger)

Engkau adalah biru laut
Aku adalah biru langit

Merdeka!!!


Kita samasama biru

Hanya saja dimensinya beda

Birumu adalah harapan,
harapan terbersit sejauh mata memandang.



Merdeka!!!

Biruku adalah kenyataan,
kenyataan akan harapanmu.

Berlalulah sang kala.
Makin jelas kumelihat, makin tajam kumemandang,
makin dalam kumerasa,
dan makin kuat kutendang bolabola asa.
Rupanya biru kita kini tak jauh berbeda.
Biruku telah tercemar asap demokrasi,
Birumu terkontaminasi limbah globalisasi.

Merdeka!!!


Belum kawan, kita masih terjajah.

Lalu kapan?
Hanya kepalan tanganmu dan tanganku yang bisa menjawab.


Jogja, 08 Juli 2009


Senin, 05 September 2011

Anggur

(by Li-Tai-Po)

Bila beribu urusan
Menggaduh memberati ingatan
dengan tiga ratus sloki

Tlah sendirinya tiada berkesan

Betapa besar juga urusan
Dan tiada bersua anggur barang setitik
Akan hilang sendirinya
Bila tlah paham caranya

Besar sungguh
Ujar: Anggur suci
Setelah meneguk barang sesloki
Yang gelap menjadi terang
Yang terikat bebas merdeka...

Selasa, 30 Agustus 2011

Burung

(by Ngadidjo Stinger)

Burungku Burungmu
Burungku memang tak sebesar burungmu
Tapi burung punyaku belinya di mall
Burungmu cuma beli di klitikan
lalu kujual burungku
Klitikan bahkan tak sudi membeli burungku
Entahlah
Aku makin heran, burungmu bahkan terjual mahal di mall
Tak mau lagi kuikuti nurani
Untuk beli burung di mall.

Jogja, Juli 2009

Liur

(Ngadidjo Stinger)

Membutuhkan energi ekstra untuk melewatinya,
Jadi biarkan mataku terus menjilati wajahmu,
Lalu aku tahu langit langit mimpi tak ayal ku gapai,
Setelah kupastikan untuk tetap memijak bumi,
Kuajak angin meniduri sang sepi.


Jogja, 17 Oktober 2009